Monday, December 10, 2012

Pengertian Wahyu Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi Serta Perbedaannya

B.‎    Perbedaan antara Wahyu Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi
‎1.‎    Wahyu Al-Quran
Menurut etimologi, wahyu diderifasi dari akar kata awhaa-yuuhii-iiha-an yang ‎artinya memberitahu sesuatu yang samar secara cepat. Adapun pengertian Al-‎Quran secara etimologi terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dalam ‎kitab Ulum Al-Quran wa al-Hadits disebutkan sedikitnya ada enam pendapat ‎mengenai pengertian Al-Quran dari segi etimologi ini, yaitu ‎:‎
a.‎    Imam Syafi’i berpendapat bahwa Al-Quran merupakan nama yang ‎independent, tidak diderivasi dari
kosakata apapun. Ia merupakan nama ‎yang khusus digunakan untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad saw.‎
b.‎    Menurut Imam al-Farra’ kata Al-Quran diderivasi dari kata benda qarain, ‎bentuk jama’ dari qarinah yang mempunyai arti indikator. Disebut dengan ‎Al-Quran karena sebagian ayatnya menyerupai sebagian ayat yang lain ‎sehingga seakan-akan ia menjadi indikator bagi sebagian ayat yang lain ‎tersebut.‎
c.‎    Imam al-Asy‘ari dan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kata Al-‎Quran diderivasi dari masdar qiran yang mempunyai arti bersamaan atau ‎beriringan. Disebut dengan Al-Quran karena surat, ayat, dan huruf yang ‎ada di dalamnya saling beriringan.‎
d.‎    Imam al-Zajjaj berpendapat bahwa kata Al-Quran diderivasi kata benda ‎qur-u yang mempunyai arti kumpulan. Menurut beliau dinamakan dengan ‎Al-Quran karena mengumpulkan intisari beberapa kitab yang diturunkan ‎sebelum Al-Quran.‎
e.‎    Sebagian ulama mutaakhkhirin sependapat dengan pandangan yang ‎menyatakan bahwa Al-Quran berasal dari kata kerja qara'a yang ‎mempunyai arti mengumpulkan atau menghimpun dengan dalil firman ‎Allah:‎
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di ‎dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. (Q. S al-Qiyamah: 17). ‎

f.‎    Menurut al-Lihyani, kata Al-Quran diderivasi dari fi’il qaraa yang ‎mempunyai arti membaca. Oleh karena itu, kata Al-Quran merupakan ‎bentuk masdar yang sinonim dengan kata qira'ah (pendapat yang terakhir ‎ini merupakan pendapat yang paling kuat).‎
Sedangkan Al-Quran secara terminologi adalah firman Allah yang berbahasa ‎Arab, yang dapat melemahkan musuh (al-mu’jiz), diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad, ditulis di dalam mushaf, dan ditranformasikan secara tawatur serta ‎membacanya termasuk ibadah.‎

‎2.‎    Hadis Qudsi
Pengertian hadis adalah sebagaimana penjelasan di atas. Sedangkan kata qudsi ‎yang dinisbahkan kepada al-quds secara etimologi berarti kebersihan dan kesucian. ‎Dengan demikian, hadis qudsi adalah hadis yang dinisbahkan kepada Dzat yang ‎Maha Suci, yaitu Allah swt. Secara terminologis pengertian hadis qudsi terdapat ‎dua versi. (1) Hadis qudsi merupakan kalam Allah Swt (baik dalam substansi ‎maupun struktur bahasanya), dan Nabi hanya sebagai orang yang menyampaikan. ‎‎(2) Hadis qudsi adalah perkataan dari Nabi, sedangkan isi dari perkataan tersebut ‎berasal dari Allah SWT. Maka dalam redaksinya sering memakai ‎قال الله تعالى‎. ‎
Dalam hal ini peneliti lebih condong pada pengertian hadis qudsi yang kedua. ‎Dengan alasan untuk membedakan antara Al-Quran dan hadis qudsi dalam proses ‎terjadinya. Contoh hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ‎ra.‎
روى أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول الله تعالى أنا ‏عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وإن ذكرني ‏في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم (أخرجه البخاري ومسلم في صحيحيهما)‏


‎3.‎    Hadis Nabawi
Menurut istilah hadis Nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi ‎Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun karakter ‎beliau. Contoh hadis Nabawi yang berupa perkataan (qauli) adalah perkataan Nabi ‎Muhammad saw:‎
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى (اخرجه البخارى ومسلم)‏
Contoh hadis yang berupa perbuatan (fi'li) ialah‏:‏
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى جَعْفَرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ‏عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ ‏لِلصَّلاَةِ (أخرجه البخاري)‏

Contoh hadis berupa ketetapan (taqriri) ialah‎‏:‏
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ خَالَتَهُ أَهْدَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَمْنًا وَأَضُبًّا وَأَقِطًا فَأَكَلَ ‏مِنَ السَّمْنِ وَمِنَ الأَقِطِ وَتَرَكَ الأَضُبَّ تَقَذُّرًا وَأُكِلَ عَلَى مَائِدَتِهِ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى ‏مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ‎ ‎‏(أخرجه ابو داود واحمد)‏
Contoh hadis berupa sifat atau karakter (wasfi) ialah‏:‏
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلاَ بِالْقَصِيرِ حَسَنَ الْجِسْمِ أَسْمَرَ ‏اللَّوْنِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلاَ سَبْطٍ إِذَا مَشَى يَتَكَفَّ (أخرجه الترمذى)‏
Hadis Nabawi dilihat dari proses terjadinya dibagi menjadi dua ‎. Pertama, ‎Tauqifi, yaitu hadis yang kandungan maknanya diterima oleh Rasulullah saw dari ‎wahyu, kemudian beliau menjelaskan kepada manusia dengan redaksi (susunan ‎kata) beliau sendiri. Meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi ‎dari segi pembicaraan lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah saw, sebab kata-‎kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya meskipun di dalamnya terdapat ‎makna yang diterima dari pihak lain.‎
Kedua, taufiqi yaitu yang disimpulkan oleh Rasulullah saw menurut ‎pemahamannya terhadap Al-Quran, karena beliau mempunyai tugas menjelaskan ‎Al-Quran atau menyimpulkannya dengan pertimbangan dan perenungan ijtihad ‎beliau. Kesimpulan beliau yang bersifat ijtihad ini diperkuat oleh wahyu jika benar, ‎dan bila terdapat kesalahan, turunlah wahyu yang membetulkannya. Dengan ‎demikian berarti hadis Nabawi bukanlah kalam Allah secara pasti. ‎
Dari sini, jelaslah bahwa hadis Nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi ‎atau yang taufiqi bersumber dari wahyu. Inilah makna dari firman Allah tentang ‎Rasul-Nya, "Dia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Apa yang ‎diucapkannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya." (An-‎Najm: 3-4).‎
Dari uraian singkat di atas dapat kita ketahui beberapa perbedaan dari ‎ketiganya.‎
a.‎    Perbedaan antara Al-Quran dengan hadis qudsi adalah sebagai berikut ‎:‎
‎1)‎    Al-Quran secara struktur dan substansi bahasanya berasal dari Allah. Hadis ‎qudsi redaksi bahasanya berasal dari Nabi sedangkan substansi  isinya ‎berasal dari Allah.‎
‎2)‎    Redaksi yang digunakan oleh Nabi pada Al-Quran adalah Allah telah ‎berfirman, sedangkan redaksi dalam hadis qudsi menggunakan kalimat; ‎Allah telah meriwayatkan kepadaku.‎
‎3)‎    Al-Quran merupakan ibadah jika dibaca, sedangkan hadis qudsi tidak ‎demikian.‎
‎4)‎    Al-Quran merupakan mu'jizat sedangkan hadis qudsi tidak.‎
‎5)‎    Al-Quran hanya diturunkan melalui perantara malaikat Jibril, sedangkan ‎hadis qudsi bisa dengan melalui ilham maupun mimpi.‎
b.‎    Perbedaan antara hadis qudsi dengan hadis nabawi yang paling pokok adalah ‎bahwa hadis qudsi ada kaitannya dengan Allah (ada nisbat) meskipun hanya ‎dalam aspek bahasanya. Hal ini berbeda dengan hadis nabawi yang mana ‎substansi maupun bahasanya berasal dari Nabi.‎ ‎ Meskipun demikian bukan ‎berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari ‎nafsu belaka, akan tetapi mempunyai pengertian hadis nabawi dalam proses ‎terungkapkannya oleh nabi tidak harus menunggu wahyu dari Allah.‎
belajar komputer
Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di samping. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.
Judul: Pengertian Wahyu Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi Serta Perbedaannya; Ditulis oleh Om Ganyonk; Rating Blog: 5 dari 5

3 comments:

  1. mas copas dari http://www.zulfanafdhilla.com/2013/10/pengertian-al-quran-hadits-qudsi-hadits.html ya? itu isi MAKALAH saya! mohon di sertakan link sumber!

    ReplyDelete
  2. maaf baru sempat balas
    mas agus salim terima kasih kembali
    mas zulfan atas dasar apa anda bilang saya mengambil makalah anda,,, itu murni tulisan saya

    kalau anda bertanya maka saya jawab tidak, itu punya saya
    tapi kalau anda menuduh, dan menganggap saya copas tulisan anda baerarti benar tuhan telah membusuk

    ReplyDelete